Balita HIV-AIDS Potensial Bertambah
MALANG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang memutuskan tidak akan ikut campur atas masalah BL, balita positif HIV yang kini dirawat di RSSA karena serangan Stevens Johnson Syndrome (SJS). Alasannya, jika balita sudah dirawat di RSSA, tanggung jawab kesehatannya berada di tangan tim dokter. Tepatnya klinik VCT (Voluntary Conselling and Testing) RSSA.
Kabid P2PL (Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit serta Penyehatan Lingkungan) Dinkes Kota Malang Nusindrati mengatakan, karena BL telah dirawat RSSA, pihaknya tidak bisa ikut campur lagi. “Kalau sudah ngamar, dinkes tidak bisa berbuat banyak. Semua diserahkan kepada rumah sakit,” ujarnya kemarin.
Kendati begitu, untuk kasus HIV, selama ini dinkes selalu melakukan pantauan terpadu. Sebab, penyakit tersebut masuk kategori penyakit menular paling rawan dengan tingkat penyebaran tinggi. “Pantauan terhadap penderita HIV balita maupun HIV-AIDS orang dewasa terus kami lakukan. Tetapi untuk pengobatan diserahkan ke RSSA,” beber Nunus -sapaan Nusindrati.
Khusus balita terinveksi HIV, langkah yang dilakukan adalah pemantauan status gizi. Selain masa kanak-kanak yang butuh gizi tinggi untuk pertumbuhan, langkah itu dilakukan untuk menjaga stabilitas kesehatan tubuh. Pasalnya, virus HIV ini menyerang kekebalan tubuh manusia yang mengakibatkan penderita sangat rentan terserang penyakit. Bukan hanya penderita anak, tapi juga pengidap HIV-AIDS pada umumnya. Hanya saja, pemenuhan gizi penderita HIV ditangani bidang lain. “Prinsipnya, virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh terus menerus dan tidak bisa sembuh,” tandas Nunus.
Bagaimana dengan penderita SJS di Kota Malang? Untuk kasus SJS sendiri, Nunus mengatakan, SJS adalah dampak alergi yang juga menyerang sistem imunitas. Untuk kasus di Kota Malang, SJS masih jarang terjadi. “Sebenarnya itu penyakit sejak lama. Tahun ini saja kebetulan merebak karena terjadi kasus,” kata dia.
Seperti diketahui, sejak 1 Juli lalu, bocah BL dirawat di IRNA IV RSSA dalam instalasi infeksi karena serangan SJS. Bocah berusia 4,5 tahun itu juga diketahui positif terinveksi HIV. Selain BL, di ruang yang sama ada satu pasien menderita SJS. Dia adalah Nur Rochman Fibrianto, warga Junrejo, Batu. Hingga kemarin, keduanya masih dirawat di instalasi tersebut.
Terpisah, Kadinkes Kota Malang Enny Sekarengganingati beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa balita di Kota Malang yang terinfeksi virus HIV ada tujuh anak. Tujuh balita terinfeksi itu berdasarkan data yang dihimpun dinkes. Kemungkinan besar masih ada penderita belum masuk data. “Biasanya, faktor pembawa adalah ibu. Rata-rata tertular saat si bayi berada dalam kandungan dan salah perlakuan pascadilahirkan,” ungkapnya.
Hanya, Enny tidak bisa memastikan apakah si ibu pembawa virus tersebut tertular dari suami yang gemar “jajan”, ganti-ganti pasangan, mengonsumsi narkoba, atau murni si ibu yang “nakal”. “Faktornya apa sulit dilacak. Yang jelas pembawanya adalah ibu yang mengandungnya,” kata Enny.
Angka balita HIV/AIDS, lanjut Enny, potensial bertambah. Pasalnya, saat ini diketahui ada dua wanita hamil yang terdeteksi positif HIV/AIDS. Dibandingkan dengan angka ibu rumah tangga yang positif HIV/AIDS, data balita dan wanita hamil positif HIV/AIDS tak sebanding. Ibu rumah tangga yang mengidap penyakit mematikan ini mencapai 109 orang atau naik 46 orang sejak Oktober 2008 lalu. Sedangkan wanita pekerja seks (WPS) yang juga positif HIV/AIDS mencapai 74 orang. Angka ini naik 11 orang sejak Oktober 2008.
Di posisi Oktober 2008, angka penderita HIV/AIDS di kalangan ibu rumah tangga dan WPS sama-sama 63 orang. “Penanganan kasus ini kami serahkan sepenuhnya ke klinik VCT di RSSA. Baik obat maupun perawatan,” tutur Enny.
Khusus balita dan bayi dalam kandungan, Enny menjelaskan, mulai nol hingga usia lima tahun, mereka mendapatkan bantuan gizi dari Pemprov Jatim. Tepatnya lewat program bantuan gizi untuk anak HIV/AIDS. Subsidi gizi itu dihentikan jika bayi sudah tidak balita lagi atau usianya di atas lima tahun. “Di atas usia lima tahun menyesuaikan. Jika ada program, kami berikan,” tandas wanita berjilbab ini.
Untuk penanganan para bayi dalam kandungan, dinkes berupaya meminimalisasi kontak bayi dengan darah ibu. Langkah ini dilakukan lewat program PMTCT (preventive maternal to child process). “Sejak hamil sampai melahirkan, diawasi lewat PMTCT,” kata dia.
Loading...